cara mengendalikan emosi kepada anak

Bunda, ini Tips Cara Mengendalikan Emosi Kepada Anak

Cara mengendalikan emosi kepada anak yang efektif tampaknya perlu kita terapkan setiap hari. Setelah menjadi orangtua, maka terasa bahwa sumbu sabar yang panjang itu sangat penting. Bagaimanapun juga, anak – anak tetaplah anak kecil. Mereka akan sulit memasukkan nasehat, meskipun sudah kita ulang setiap hari.

Biasanya, “kesalahan” atau “kekurangan” mereka hanya karena mereka lebih senang bermain. Anak – anak biasanya, hanya hidup pada saat sekarang. Karenanya, emosi anak juga biasanya hanya pada saat itu saja. Menangis, tetapi mudah lupa. Terus tertawa dan bermain lagi.

Jadi, reaksi mereka atas sesuatu, hanya sebatas pada saat itu saja. Biasanya tidak berfikir kedepan. Jadi, tidak berfikir tentang konsekuensi tindakan mereka juga. Dicubit, menangis, jika diberi es krim, tersenyum. Menangisnya sudah lupa lagi.

Nah, kita sebaliknya. Kita cenderung mengingat tentang masa lalu. Kemudian, cenderung juga untuk mempertimbangkan berbagai hal kedepan. Anak – anak, biasanya tidak melakukan hal semacam ini. Karenanya, mainan yang tidak rapi, pakian kotor, atau hal lain menjadi hal biasa.

Jika ingin bermain, mereka bermain. Jika capek, akan tidur. Jika lapar, ya makan. Mainan yang berantakan akan terlupakan. Karenanya, kitalah yang perlu memberikan contoh dengan konsisten.

Untuk mengajarkan tanggung jawab, memang perlu waktu. Bagaimanapun juga, alam berfikir mereka memang masih berbeda. Apalagi, jika masih kecil. Yang penting, kita sabar dan konsisten membiasakan mereka. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka akan dilakukan secara naluriah.

Jadi, jika kita ingin marah kepada mereka, maka kita bisa menanyakan pada diri kita apakah sudah tepat bagi kita untuk marah. Cara mengendalikan emosi pada anak yang lebih efektif, diantaranya:

Apakah memang kita perlu untuk marah pada anak kita?

Memang marah merupakan emosi dasar yang sangat manusiawi. Juga, wajar jika ada orang marah. Tetapi, jika perilaku mereka terkesan membuat marah, kita perlu bertanya. Apakah marah cocok untuk menyelesaikan masalahnya?

Untuk anak yang memang masih kecil, mereka suka ingin tahu banyak hal. Artinya, mencoba – coba. Pastinya, akan ada hal yang akan membuat kita merasa jengkel yang mereka coba. Tetapi, jangan sampai, mereka takut mencoba karena tahu kita akan marah.

Mencari tahu apa yang membuat anak kita kesal atau marah

Anak kecil yang rewel, atau bersikap menjengkelkan biasanya karena protes. Biasanya, karena minta perhatian. Misalnya, kita bekerja di rumah. kemudian, mereka minta bermain dengan kita. Karena pekerjaan banyak, dan deadline cepat, maka kita hanya minta maaf dan tetap bekerja.

Bagaimanapun juga, mereka bisa mulai rewel. Mulai dari banyak bicara, berteriak, melempar, memukul atau lainnya. Anak kecil biasanya belum mampu berkomunikasi dengan baik. Karenanya, jika anak tidak suka sesuatu, akan mulai rewel. Mereka juga belum mengenal tempat. Misalnya, dimana boleh rewel atau tidak. Boleh memotong pembicaraan kita dengan tamu kita atau tidak.

Kita, sebaliknya berusaha mengerti apa yang mereka inginkan. Silahkan berbicara dengan mereka untuk tahu apa yang dinginkan. Terkadang, anak juga tidak mau berbicara langsung. Kitalah yang menebak.

Misalnya, jika ia ingin mainan. Tetapi, kita tolak. Nah, nantinya, kita tahu hal ini akan tetap berpotensi membuat anak rewel. Karena itulah, kita juga harus mengerti alasannya untuk bisa mendapatkan solusinya.

Jika anak suka memotong pembicaraan kita dengan tamu misalnya, tugas kita untuk memberikan pemahaman. Dan, jangan juga berharap mereka akan mengerti dengan sekali diberitahu. Biasanya, mereka melakukan itu untuk mendapat perhatian kita. Jadi, kita bisa sabar memberi tahu mereka. Juga, bisa saja sekali – sekali mengajak mereka terlibat dengan pembicaraan kita. Misalnya dengan bertanya, sini, ikut Bunda ngobrol disini sama tante Rina. Misalnya.

Cut !

Saat benar – benar marah, itulah saat kita sebaiknya tidak langsung membentak atau menghadapi anak kita. Biasanya, ada yang menunggu menghitung hingga 10. Atau lebih. Yang jelas, ini adalah saat untuk Time Out. Bukan saat untuk konfrontasi.

Bisa juga, kita minta pasangan untuk menemani dan mengawasi si kecil. Sementara kita menenangkan diri dahulu.

Negosiasi dengan anak

Jika umur anak sudah mengerti berdiskusi, kita bisa mengajak mereka negosiasi. Misalnya, boleh main HP, tetapi 5 menit lagi saja. Kemudian tidur, besok masih sekolah.

Menurunkan ekspektasi

Anak kecil ,memang masih memiliki banyak keterbatasan. Karena itulah, ekspektasi kitalah yang mestinya diturunkan. Anak umur 2 atau 3 tahun, bisa dilatih membereskan mainan. Tetapi, tentu berbeda dengan anak umur 6 tahun.

Kita, semestinya memiliki harapan wajar saja terhadap mereka. Jika harapan kita juga wajar, maka emosi kita saat sesuatu berjalan “salah” juga akan turun.

Masalah mendasar, jika kita marah – marah, maka potensi perkembangan anak justru bisa terpengaruh. Kita semestinya membiarakan mereka menemukan “dunia baru mereka” dengan bereksplorasi. Tugas kita, hanya mendampingi, memberi contoh dan juga pengertian.

Pada akhirnya, anak memang paling bagus untuk mencontoh orangtuanya. Cara mencontohnya, tentu sesuai yang mereka rasakan atas diri mereka. Jadi, jika mereka merasa kita selalu rapi, maka mereka akan cenderung mencontoh rapi juga. Jika mereka merasa orangtua perhatian, maka mereka juga menjadi perhatian dengan orang lain.

Karena itu, kita harus memberikan kesempatan bereksplorasi untuk anak – anak kita. Tetapi, dengan memberi contoh yang baik. Juga, melindungi tubuh mereka, supaya daya tahan tetap terjaga, silahkan memberikan DANCOW Advanced Excelnutri+ 1+. 

Susu ini adalah susu pertumbuhan khusus anak berusia 1 tahun keatas. Susu ini diperkaya dengan vitamin (A, D, E, K, C), protein, zink, kalsium, selenium, omega 3 (ALA), Lactobacillus rhamnosus, omega 6 (LA), serta serat pangan inulin. Semua dimaksudkan untuk memenuhi gizi anak – anak dan pertumbuhan mereka. Salam sehat dan sukses selalu!